Selasa, 30 April 2013

Sapi Bali



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

 Kekhasan sapi Bali yakni berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimanakah penilaian Sapi Bali secara obyektif?
1.2.2 Bagaimanakah penilaian Sapi Bali secara subyektif?
1.2.3 Bagaimana penggabungan nilai antara obyektif dan subyektif?

1.3 Tujuan
Mahasiswa mengetahui tentang bagaimana penilaian sapi Bali secara Obyektif, Subyektif maupun penggabungan dari keduanya.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Sapi Bali
            Sapi Bali merupakan sapi potong asli Indonesia yang merupakan hasil domestikasi dari banteng (Bibos banteng) adalah jenis sapi yang unik, hingga saat ini masih hidup liar di Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Baluran dan Taman Nasional Ujung Kulon. Sapi asli Indonesia ini sudah lama didomestikasi suku bangsa Bali di pulau Bali dan sekarang sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Kekhasan Fisik Sapi Bali
Bali berukuran sedang, dadanya dalam, tidak berpunuk dan kaki-kakinya ramping. Kulitnya berwarna merah bata. Cermin hidung, kuku dan bulu ujung ekornya berwarna hitam. Kaki di bawah persendian karpal dan tarsal berwarna putih. Kulit berwarna putih juga ditemukan pada bagian pantatnya dan pada paha bagian dalam kulit berwarna putih tersebut berbentuk oval (white mirror). Pada punggungnya selalu ditemukan bulu hitam membentuk garis (garis belut) memanjang dari gumba hingga pangkal ekor.
Sapi Bali jantan berwarna lebih gelap bila dibandingkan dengan sapi Bali betina. Warna bulu sapi Bali jantan biasanya berubah dari merah bata menjadi coklat tua atau hitam legam setelah sapi itu mencapai dewasa kelamin. Warna hitam dapat berubah menjadi coklat tua atau merah bata apabila sapi itu dikebiri.
Sapi Bali dalam Kehidupan Petani Bali
Sapi Bali merupakan hewan ternak yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat petani di Bali.
  • Sapi Bali sebagai tenaga kerja pertanian
Sapi Bali sudah dipelihara secara turun menurun oleh masyarakat petani Bali sejak zaman dahulu. Petani memeliharanya untuk membajak sawah dan tegalan, untuk menghasilkan pupuk kandang yang berguna untuk mengembalikan kesuburan tanah pertanian.


  • Sapi Bali sebagai sumber pendapatan
Sapi Bali mempunyai sifat subur, cepat beranak, mudah beradaptasi dengan lingkungannya, dapat hidup di lahan kritis, dan mempunyai daya cerna yang baik terhadap pakan. Keunggulan lain yang sudah dikenal masyarakat adalah persentase karkas yang tinggi, juga mempunyai harga yang stabil dan bahkan setiap tahunnya cenderung meningkat membuat sapi Bali menjadi sumber pendapatan yang diandalkan oleh petani.
  • Sapi Bali sebagai sarana upacara keagamaan
Dalam agama Hindu, sapi dipakai dalam upacara butha yadnya sebagai caru, yaitu hewan korban yang mengandung makna pembersihan. Demikian juga umat Muslim juga membutuhkan sapi untuk hewan Qurban pada hari raya Idhul Adha.
  • Sapi bali sebagai hiburan dan obyek pariwisata
Sapi Bali juga dapat dipakai dalam sebuah atraksi yang unik dan menarik. Atraksi tersebut bahkan mampu menarik minat wisatawan manca negara untuk menonton. Atraksi tersebut adalah megembeng ( di kabupaten Jembrana) dan gerumbungan (di kabupaten Buleleng).
2.2       Pengukuran Tubuh Sapi Bali
Pengukuran ukuran tubuh ternak sapi dipergunakan untuk menduga bobot badan seekor ternak sapi dan sering kali di pakai juga sebagai parameter teknis penentuan sapi bibit dan menentukan umur sapi tersebut.
Berdasarkan ketentuan kontes dan pameran ternak nasional, yang termasuk dalam “statistik vital” pada ternak sapi meliputi ukuran tinggi gumba, panjang badan, lingkar dada, lebar dada, dalam dada, lebar punggung, lebar pinggul, panjang pinggul, panjang kepala, lebar kepala, berat badan, dan umur.
Ukuran “statistik vital” dari organ tertentu jika dikaitkan dengan umur akan menggambarkan keharmonisan perkembangan tubuh dan produktivitas (pertumbuhan). Karena itu, pertumbuhan organ-organ tertentu berkorelasi dengan berat badan.
            Pengukuran dimensi dimaksudkan pelaksanaan dengan mengukur dimensi tubuh luar ternak atau ukuran statistic
  1. Ukuran Tinggi :
a.       Tinggi Pundak, tinggi gumba ialah jarak tegak lurus dari titik tertinggi pundak sampai ketanah atau lantai, alat yang digunakan adalah tongkat ukur.
b.      Tinggi punggung ialah jarak tegak lurus dari taju duri ruas tulang punggung atau processus spinosus vertebrae thoracaleyang terakhir sampai ke tanah . Titik ini mudah didapat dengan menarik garis tegak lurus tepat diatas pangkal tulang rusuk terakhir.
c.       Tinggi pinggang  ialahjarak tegak lurus dari titik antara tulang lumbar vertebrae 3-4, tepat melalui legok lapar sampai ke tanah ( lantai ).
d.      Tinggi pinggul ialah jarak tegak lurus dari titik tertinggi pada os sacrum pertama sampai ke tanah.
e.       Tinggi kemudi, jarak tegak lurus dari os sacrum ( sacrale ), tepat melalui tengah- tengah tulang ilium sampai ke tanah.
f.       Tinggi pangkal ekor ialah jarak tegak lurus dari titik pangkal ekor, sampai ke tanah.
Alat yang dipakai untuk mengukur tinggi bagian- bagian tubuh diatas adalah tongkat ukur.

  1. Ukuran Panjang :
a.       Panjang kepala jarak dari puncak kepala sampai ujung moncong.
b.      Panjang badan ; diukur secara lurus dengan tongkat ukur dari siku ( humerus ) sampai benjolan tulang tapis ( tuber ischii ).
c.       Panjang menyilang badan, jarak yang diukur antara  tulang benjolan bahu sampai tulang duduk disisi lainnya. Diukur dengan memakai pita ukur.
d.      Panjang kemudi; panjang kelangkang; panjang pelvis, jarak antara tuber coxae dan tuber ischii pada sisi sama.
e.       Panjang telinga, jarak antara ujung telinga sampai pangkal telinga bagian dalam. Dapat diukur dengan penggaris atau pita ukur.
f.       Panjnag tanduk, diukur dengan pita ukur. Jarak antara ujung tanduk sampai kedasar tanduk.
Selain yang telah disebutkan alat- alatnya, dapat juga digunakan tongkat ukur, jangka sorong atau caliper.
  1. Ukuran Lebar :
a.       Lebar dada, jarak terbesar pada yang diukur tepat dibelakang antara kedua benjolan siku luar, yaitu tepat pada tempat mengukur lingkar dada.
b.      Lebar pinggang, jarak diukur antara taju horizontal yaitu pada tulang lumbale 3-4.
c.       Lebar pinggul, jarak antara tuber coxae pada sisi kiri dan kanan.
d.      Lebar kemudi, jarak terlebar antara sisi luar kiri dan kanan tulnag pelbis atau os illium melalui os sacrum 3-4.
e.       Lebar pantat, lebar tulang tapis atau lebar tulang duduk, jarak antara kedua benjolan tuber ischii kiri dan kanan.
f.       Lebar kepala, jarak terbesar antara kedua lengkungan tulang mata sebelah atas luar kiri dan kanan.

  1. Ukuran Dalam :
Dalam dada. Jarak titik tertinggi pundak ( gumba ) sampai tulang dada dan diukur melalui serta merta dibelakang siku.
  1. Ukuran Lingkar :
a.       Lingkar dada. Lingkaran yang diukur pada dada serta merta atau persis dibelakang siku, tegak lurus dengan sumbu tubuh.
b.      Lingkar perut . lingkaran yang diukur di daerah perut.yang memliki lingkaran besar, melalui serta merta di belakang tulang rusuk terakhir dan tegak lurus dengan sumbu tubuh.
c.       Lingkar flank. Lingkaran yang diukur di daerah flank, melalui tuber coxae serta merta depan ambing atau skrotum.
d.      Lingkar pantat, lingkar  round. Lingkaran yang diukur pada pantat, dari tulang patella kiri sampai tulang patella kanan, kearah belakang serta membentuk penampang sejajar dengan lantai.
e.       Lingkar tulang pipa. Lingkaran yang diukur ditengah- tengah tulang pipa, yaitu pada bagian yang terkecil dan terbulat.
f.       Lingkar skrotum. Lingkaran yang diukur pada bagian terbesar skrotum; terlebih dulu skrotum telah ditarik kearah bawah sehingga terdapat kedua testesnya.
g.      Lingkar tubuh.
h.      Lingkar mulut, lingkar moncong. Lingkaran yang diukur tepat pada akhir sudut bibir, ialah pada batas antara kepala dan moncong.
  1. Indeks Kepala:
Merupakan perbandingan atau rasio antara lebar kepala dengan panjang kepala dalam satuan persen.
  1. Tebal Kulit :
Ialah tebal kulit yang diukur  pada daerah tulang rusuk terakhir bagian atas, pada sepertiga jarak garis panggung dan perut. Kulit ditarik dan diukur dengan cutimeter atau jangka sorong. Tebal kulit adalah setengah dari angka yang ditunjukkan oleh jangka sorong.
  1. Luas kuku :
Iala dengan cara mengukur luas injakan kuku diatas kertas yang telah diinjak oleh ternak tersebut. Alat pengukurnya ialah planimetri atau dapat pula dengan kertas ukuran mm.


BAB III
MATERI DAN METODE

3.1       Materi
            Praktikum dilakukan pada hari Sabtu 4 Desember 2010 di Desa Taman Kec. Abiansemal, Kab. Badung, Kelompok Ternak Taman Sari.. Adapun materi yang di pakai dalam menjalankan Praktikum ini yakni :
Alat dan Bahan :
·         Alat ukur ( meteran maupun tongkat ukur )
·         Sapi Bali

3.2       Metode
      Adapun metode yang di pakai dalam praktikum ini adalah metode observasi langsung melalui wawancara langsug yang digunakan sebagai penilaian dari ternak potong sapi itu sendiri. Seperti mengukur lingkar dada pada sapi Bali dengan meteran, mengukur lingkar dada pada sapi Bali dengan meteran, tinggi gumba dengan alat ukuran, dan lain- lain.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Penilaian Obyektif Sapi Bali Betina
Pengukuran Dimensi tubuh
No Kelompok
PB
LID
DD
TG
TP
LD
LP
1
124Cm
157,5 Cm

115 Cm
117 Cm

30 Cm
2
118Cm
148Cm
59Cm
108Cm
111Cm
148Cm
29,5 Cm
3
120,5 Cm
155Cm
64Cm


28,5Cm
32 Cm
4
94Cm
125 Cm
49Cm
94 Cm
98 Cm
17Cm
21 Cm
5
99Cm
125Cm
67Cm
95Cm
101Cm
92Cm
96Cm

PB       : Panjang Badan
LID     : Lingkar Dada
DD      : Dalam Dada
TG       : Tinggi Gumba
TP        : Tinggi Pinggul
LD       : Lebar Dada
LP       : Lebar Pinggul
Penilaian Subyektif Sapi Bali
No Kelompok
Warna
(20)
Bentuk Umum( 25)
Kepala
(10)
Tanduk
(15)
Leher
(10)
Gumba
(10)
Punggung
(10)
1
17
23
9
9
7
9
8
2







3







4
17
13
9
12
8
7
8
5








Penggabungan Nilai Obyektif dan Subyektif

Sapi 1
Sapi 2
Sapi 3
Sapi 4
Sapi 5
x
1.      Nilai Eksterior






2.      Dimensi Luar






a.       Lingkar dada
157,5
148
155
125
125
142,1
b.      Tinggi gumba
115
108

94
95

c.       Panjang badan
124
118
120,5
94
99
111,1
d.      Lebar pinggul
30
29,5
32
21
96
41,7





















Pertumbuhan tubuh ternak secara keseluruhan umumnya diukur dengan bertambahnya berat badan, sedangkan besarnya badan dapat diukur melalui tinggi pundak, panjang badan, lingkar dada, lebar dada, dan lain- lainnyal. Kombinasi berat dan besarnya badan umumnya dipakai sebagai ukuran pertumbuhan nilai obyektf. Sedangkan pengukuran nilai skor yang dilakukan secara langsung dengan melihat bentuk tubuh, cirri khas dan keharmonisan tubuh digunakan untuk penilaian secara indeks skor kualitatif atau nilai skor subyektif. Jika ada data yang tidak didapat pada praktikumlapangan kali ini disebabkan sikap kurang tenang dari ternak tersebut sehingga kelompok tidak mendapatkan data karenja tidak bias diukur.
 Data kelompok I diatas dapat diketahui bahwa Sapi Bali pada kelompok I memiliki produktifitas baik jika dibandingkan dengan ternak yang diukur pada kelompok II. Begitu juga dengan perbedaan yang terdapat pada kelompok lain. Jadi perbedaan ukuran ini,disebabkan pada saat pengukuran yang dimana sapi yang diukur memiliki pebedaan umur, sehingga hasil yang di dapat dalam pengkuran dimensi pun berbeda pada tiap- tiap kelompoknya. Dilakukan pengukuran dimensi tubuh ataupun dengan penilaian subyektif, dikatakan baik, dan cocok digunakan karena baik sebagai bibit unggul untuk indukan. Sedangkan, jika Sapi Bali tersebut memiliki jenis kelamin jantan maka ternak tersebut dapat di katakan kurus. Maka ternak tersebut tidak cocok digunakan sebagai pejantan.
BAB V
KESIMPULAN

Pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa penilikan atau pengukuran dimensi tubuh sapi Bali sangat penting untuk mengetahui produktivitas dari sapi Bali, dan kandungan karkas yang tersedia pada ternak sapi Bali tersebut. Manfaat menilik itu sendiri agar kita mengetahui hubungan ukuran tubuh luar dikaitkan dengan produktivitas agar kita tahu jenis sapi tersebut cocok untuk bibit ( bakalan ) atau untuk di potong.



DAFTAR PUSTAKA

Hardjosubroto, Wartomo. 1994. Aplikasi Pemuliabiakan Ternak Di Lapangan. PT. Percetakan   Gramedia : Jakarta
Djagra, I.B. 2009. Diktat Ilmu Tilik Sapi Potong. Fakultas Peternakan Universitas Udayana, Denpasar.
Santosa, Undang. 2006. Seri Agribisnis Tata Laksana Pemeliharaan Ternak Sapi. PT. Penerbit Penebar Swadaya : Bogor.